Pakuwan
Mohosinto Winduherang
Tempat atau wilayah asal muasal Sejarah
Peradaban Manusia dan Sejarah Pewayangan
Sri Candra Patikusuma
(Penulis Sejarah Kuningan):
“ Winduherang sendiri itu sudah
dikenal pada tahun 420 SM, dimana pada saat itu yang sudah dikenal Rajanya Sri Baginda Maha Prabu Rama Wijaya atau
adalah Sang Pandawa Wiragati Raja Kuningan. Beliaulah yang mengeluarkan ajaran
HASTABRATA (8 ajaran pemimpin yang bersih )maka dari situlah nama Winduherang
diambil, yang sebelumnya nama Winduherang sendiri sudah dikenal sebagai
Rajatapura atau orang mengenalnya wilayah tempat asal muasalnya Medang
Kamuliaan dalam tokoh Pewayangan, Winduherang sendiri sudah dikenal sebagai
Dayeuh atau puseurnya Ibukota yang dikatakan MOHOSINTO, karena disitu pada tahun
230 SM sudah berkedudukan Sang Maha Raja Besar yang dikatakan Sri Baginda Maha
Raja Purnawarman Bhima Prakarma Sang Iswara Digwijaya Surya Maha Purusha Jagat
Pati atau kita mengenalnya Pangeran Arya Adipati Ewangga, yang sudah bisa
menguasai Dunia luar baik itu Barat dan Timur karena beliaulah yang pertama
mendapatkan kejayaan keemasan di Nusantara sehingga beliau di katakan sebagai
SUNDA dari kata Dewa Matahari. Sebelum
mengambil nama Winduherang kita memang sudah mengenal kata RAJATAPURA karena
disinilah asal muasal pertama adanya peradaban kerajaan pertama karena di
Kuningan sendiri mengacu dari awalnya/adanya kerajaan pertama di Nusantara yang
dikatakan SALAKANAGARA. Sebelum nama
Winduherang dikenal nama Winduherang itu sudah banyak dikenal ada yang menyatakan
bahwa Winduherang itu sebelumnya dikenal
sebagai SINGAJAYA atau yang dikatakan SINGAJAYA RAJATAPURA dan mengenalnya
SINGAPURA karena sebelum masuk ke Winduherang itu ada nama SIDAPURNA. Kemudian
setelah mendapatkan kejayaan (kita kembali ke cerita 230 SM) pada jaman
Kerajaan Taruma Nagara, disaat itu yang mendapatkan Kejayaan itu Pangeran Arya
Adipati Ewangga atau Sri Baginda Maha Raja Purnawarman disitu masih dikatakan
RAJATAPURA atau PAKUWAN MOHOSINTO sebagai Ibukota Dayeuhnya KUN ING AN , sehingga
beliaulah yang dikatakan dalam Pewayangan sebagai Bhatara Surya. Sehingga nama
Winduherang sendiri itu dikenal pada jaman Sri Baginda Maha Prabu Rama Wijaya
yang dikenal sebagai Sri Baginda Maha Raja Candra Warman sebagai Raja Taruma
Nagara ke 7 sebagai Dinasti daripada Purnawarman atau Pangeran Arya Adipati
Ewangga, sehingga beliaulah yang mengeluarkan 8 atau windu atau ajaran yang
bersih atau herang yang dikatakan HASTABRATA yaitu ajaran seorang pemimpin yang
bersih yang terdiri dari sifat atau watak :
1.
Matahari
2.
Bulan
3.
Bintang
4.
Api
5.
Mega/Mendung
6.
Air
7.
Bumi
8.
Samudra
Sehingga disitulah Sri Baginda
Maha Prabu Rama Wijaya atau Sang PANDAWA Raja Kuningan yang mengumandangkan
satu ajaran Dangiang Kuning atau 10 ajaran tentang kebaikan hidup umat manusia karena
disitulah sehingga pada tahun 420 SM disaat Sri Baginda Maha Prabu Rama Wijaya
atau Sang Pandawa Raja Kuningan yang dikenal sekarang namanya Pangeran Rama
Jaksa Patikusuma mengumandangkan menjadi nama WINDUHERANG
SYARIF JUANDA (Anggota DPRD Kabupaten Kuningan) :
“ Tidaklah terlalu sulit kiranya
kalau untuk meyakinkan khalayak bahwa Cerita/Sejarah Winduherang yang mana
berkaitan dengan nama-nama Pewayangan itu bukanlah rekayasa, salah satu
pembuktiannya sangatlah mudah yang mana kita tahu bahwa ajaran Sri Baginda Maha
Prabu Rama Wijaya atau Sang Pandawa atau Sang Ramayana atau Pangeran Rama Jaksa
Patikusuma beliau yang mengeluarkan ajaran
10 Pedoman kebaikan hidup umat manusia, ini tertulis dalam beberapa
Naskah Tua yang dijadikani rujukan para Sejarawan Nasional, ketika bicara 10
Pedoman kebaikan hidup umat Manusia nama-nama Pewayangan Sang Pandawa ini ada
ketidak fairan para ilmuwan nasional kenapa Sang Pandawa tidak diakui bahwa
beliau adalah sosok Raja Kita, kenapa kita lebih percaya bahwa Sang Pandawa ini
konon berasal dari India, kan kita
malu,.. sementara ini kita tahu bahwa para ilmuwan dunia justru mengakui bahwa PANDAWA atau cerita
pewayangan adalah kisah nyata yang berasal dari Pulau Jawa, tidak ada didaerah
manapun tidak ada Raja Mana pun yang memiliki nama Pewayangan selain KUNINGAN.
Kang AGA NUGRAHA (Pemerhati
Sejarah Kuningan dan Ahli Kosmologi) :
“ Ternyata di Kuningan itu ada
ranah atau wilayah seperti titik Winduherang itu sangat punya garis utama dari
bidang kosmologi sehingga ini bisa
dijadikan pendekatan untuk mencairkan kebekuan makna dari Legenda bahkan dari
dongeng. dan disini ditemukan beberapa titik atau situs dan ini sangat
menunjang sekali dari titik kosmologi dan dari satu sisi kosmologi ini kita
mengkaji dari sisi bahasa, sehingga di Winduherang itu ada nama-nama wilayah
yang sifatnya sangat menunjang untuk pengkajian dari sisi Kosmologi
Raden SRI CANDRA PATIKUSUMA (Penulis Sejarah Kuningan):
“ Di Winduherang ada mengenal
beberapa kesenian yang diantaranya sudah banyak terlupakan tarian Golewang, tarian yang melambangkan
satu penghormatan menyambutnya tentang Para Dewa, memang tarian ini tidak jauh
berbeda dengan tarian lainnya yang ada yang banyak dijalankan di Sunda, akan
tetapi tarian Golewang ini memang dijalankan dengan ritual-ritual tertentu.
Kemudian yang kedua ada yang dikenal dengan barongsai atau kesenian Buraq atau
Buroq yang sudah punah atau memang dilupakan yang sebetulnya inilah kesenian
yang pertama dari Winduherang yang menggunakan sebagai gambaran kebesaran
Kereta Paksi Naga Liman. Buroq itu adalah cerita/budaya yang menggambarkan satu
tunggangan kebesaran Raja Sura Liman Sakti atau beliaulah sendiri yaitu
Pangeran Arya Adipati Ewangga yang menggunakan tunggangan kereta Paksi Naga
Liman, itulah yang selama ini memang di Kuningan sendiri sudah agak pudar dan
memang banyak menjauh ke wilayah-wilayah luar wilayah Kuningan, karena memang
itu kebetulan tradisonal yang sangat besar sekali kalau kita merunut ke asal
muasal ya itulah daripada jaman Pangeran Sura Liman Sakti atau Pangeran Arya
Adipati Ewangga. Kemudian ada juga Genjring dan Reog dan inilah pada masa
kesenian beliau atau Sri Baginda Maha Raja Purnawarman (Pangeran Arya Adipati
Ewangga) dan Sri Baginda Maha Raja Candra Warman/Sang Pandawa Raja Kuningan
(Pangeran Rama Jaksa Patikusuma) , tapi sampai saat ini yang memang masih
sering dilaksanakan dalam upacara-upacara penyambutan Hari Jadi Kuningan
khusunya di Winduherang yaitu untuk Golewang masih dilakoni walaupun memang
jarang.
SYARIF JUANDA (ANGGOTA DPRD
KABUPATEN KUNINGAN) :
“Sangat prihatin, memang dalam
hal ini budaya dikembangkan atau dipelihara, tapi kenapa ini hanya dijadikan sebagai
budaya to, Negara ini akan menjadi besar justru dari nama Besar dan Jasa-Jasa Besar Beliau-Beliau para pendiri NUSANTARA.
SRI CANDRA PATIKUSUMA (Penulis
Sejarah Kuningan)
“ Makom-makom dan nama-nama Raja
– Raja yang tertulis di dalam Panggung Sejarah Nasional dan sejarah Pewayangan
ada di Winduherang Kuningan Jawa Barat.
“Prof. Dr. Nugroho Noto Susanto
dalam buku sejarah nasional Indonesia tahun 1970 menyatakan” bahwa
Panggung-panggung peristiwa sejarah nasional dan nusantara nama-nama
keberadaannya ada di wilayah Jawa Barat bagian timur tepatnya KUNINGAN”. Dan
ini bisa dijadikan keberatan atas pemindahan panggung peristiwa sejarah ke
wilayah luar Kuningan”.
Sudah waktu niti mangsa Sejarah
Kuningan ini terbuka, Insya Allah.