Translate

Minggu, 17 November 2013

Winduherang

Pakuwan Mohosinto Winduherang
Tempat atau wilayah asal muasal Sejarah Peradaban Manusia dan Sejarah Pewayangan
Sri Candra Patikusuma  (Penulis Sejarah Kuningan):
“ Winduherang sendiri itu sudah dikenal pada tahun 420 SM, dimana pada saat itu yang sudah dikenal Rajanya  Sri Baginda Maha Prabu Rama Wijaya atau adalah Sang Pandawa Wiragati Raja Kuningan. Beliaulah yang mengeluarkan ajaran HASTABRATA (8 ajaran pemimpin yang bersih )maka dari situlah nama Winduherang diambil, yang sebelumnya nama Winduherang sendiri sudah dikenal sebagai Rajatapura atau orang mengenalnya wilayah tempat asal muasalnya Medang Kamuliaan dalam tokoh Pewayangan, Winduherang sendiri sudah dikenal sebagai Dayeuh atau puseurnya Ibukota yang dikatakan MOHOSINTO, karena disitu pada tahun 230 SM sudah berkedudukan Sang Maha Raja Besar yang dikatakan Sri Baginda Maha Raja Purnawarman Bhima Prakarma Sang Iswara Digwijaya Surya Maha Purusha Jagat Pati atau kita mengenalnya Pangeran Arya Adipati Ewangga, yang sudah bisa menguasai Dunia luar baik itu Barat dan Timur karena beliaulah yang pertama mendapatkan kejayaan keemasan di Nusantara sehingga beliau di katakan sebagai SUNDA dari kata  Dewa Matahari. Sebelum mengambil nama Winduherang kita memang sudah mengenal kata RAJATAPURA karena disinilah asal muasal pertama adanya peradaban kerajaan pertama karena di Kuningan sendiri mengacu dari awalnya/adanya kerajaan pertama di Nusantara yang dikatakan SALAKANAGARA.  Sebelum nama Winduherang dikenal nama Winduherang itu sudah banyak dikenal ada yang menyatakan bahwa Winduherang itu sebelumnya  dikenal sebagai SINGAJAYA atau yang dikatakan SINGAJAYA RAJATAPURA dan mengenalnya SINGAPURA karena sebelum masuk ke Winduherang itu ada nama SIDAPURNA. Kemudian setelah mendapatkan kejayaan (kita kembali ke cerita 230 SM) pada jaman Kerajaan Taruma Nagara, disaat itu yang mendapatkan Kejayaan itu Pangeran Arya Adipati Ewangga atau Sri Baginda Maha Raja Purnawarman disitu masih dikatakan RAJATAPURA atau PAKUWAN MOHOSINTO sebagai Ibukota Dayeuhnya KUN ING AN , sehingga beliaulah yang dikatakan dalam Pewayangan sebagai Bhatara Surya. Sehingga nama Winduherang sendiri itu dikenal pada jaman Sri Baginda Maha Prabu Rama Wijaya yang dikenal sebagai Sri Baginda Maha Raja Candra Warman sebagai Raja Taruma Nagara ke 7 sebagai Dinasti daripada Purnawarman atau Pangeran Arya Adipati Ewangga, sehingga beliaulah yang mengeluarkan 8 atau windu atau ajaran yang bersih atau herang yang dikatakan HASTABRATA yaitu ajaran seorang pemimpin yang bersih yang terdiri dari sifat atau watak :
1.       Matahari
2.       Bulan
3.       Bintang
4.       Api
5.       Mega/Mendung
6.       Air
7.       Bumi
8.       Samudra
Sehingga disitulah Sri Baginda Maha Prabu Rama Wijaya atau Sang PANDAWA Raja Kuningan yang mengumandangkan satu ajaran Dangiang Kuning atau 10 ajaran tentang kebaikan hidup umat manusia karena disitulah sehingga pada tahun 420 SM disaat Sri Baginda Maha Prabu Rama Wijaya atau Sang Pandawa Raja Kuningan yang dikenal sekarang namanya Pangeran Rama Jaksa Patikusuma mengumandangkan menjadi nama WINDUHERANG
   
SYARIF JUANDA  (Anggota DPRD Kabupaten Kuningan) :
“ Tidaklah terlalu sulit kiranya kalau untuk meyakinkan khalayak bahwa Cerita/Sejarah Winduherang yang mana berkaitan dengan nama-nama Pewayangan itu bukanlah rekayasa, salah satu pembuktiannya sangatlah mudah yang mana kita tahu bahwa ajaran Sri Baginda Maha Prabu Rama Wijaya atau Sang Pandawa atau Sang Ramayana atau Pangeran Rama Jaksa Patikusuma beliau yang mengeluarkan ajaran  10 Pedoman kebaikan hidup umat manusia, ini tertulis dalam beberapa Naskah Tua yang dijadikani rujukan para Sejarawan Nasional, ketika bicara 10 Pedoman kebaikan hidup umat Manusia nama-nama Pewayangan Sang Pandawa ini ada ketidak fairan para ilmuwan nasional kenapa Sang Pandawa tidak diakui bahwa beliau adalah sosok Raja Kita, kenapa kita lebih percaya bahwa Sang Pandawa ini konon berasal dari India,  kan kita malu,.. sementara ini kita tahu bahwa para ilmuwan dunia  justru mengakui bahwa PANDAWA atau cerita pewayangan adalah kisah nyata yang berasal dari Pulau Jawa, tidak ada didaerah manapun tidak ada Raja Mana pun yang memiliki nama Pewayangan selain KUNINGAN.

Kang AGA NUGRAHA (Pemerhati Sejarah Kuningan dan Ahli Kosmologi) :
“ Ternyata di Kuningan itu ada ranah atau wilayah seperti titik Winduherang itu sangat punya garis utama dari bidang  kosmologi sehingga ini bisa dijadikan pendekatan untuk mencairkan kebekuan makna dari Legenda bahkan dari dongeng. dan disini ditemukan beberapa titik atau situs dan ini sangat menunjang sekali dari titik kosmologi dan dari satu sisi kosmologi ini kita mengkaji dari sisi bahasa, sehingga di Winduherang itu ada nama-nama wilayah yang sifatnya sangat menunjang untuk pengkajian dari sisi Kosmologi

Raden SRI CANDRA PATIKUSUMA  (Penulis Sejarah Kuningan):
“ Di Winduherang ada mengenal beberapa kesenian yang diantaranya sudah banyak terlupakan  tarian Golewang, tarian yang melambangkan satu penghormatan menyambutnya tentang Para Dewa, memang tarian ini tidak jauh berbeda dengan tarian lainnya yang ada yang banyak dijalankan di Sunda, akan tetapi tarian Golewang ini memang dijalankan dengan ritual-ritual tertentu. Kemudian yang kedua ada yang dikenal dengan barongsai atau kesenian Buraq atau Buroq yang sudah punah atau memang dilupakan yang sebetulnya inilah kesenian yang pertama dari Winduherang yang menggunakan sebagai gambaran kebesaran Kereta Paksi Naga Liman. Buroq itu adalah cerita/budaya yang menggambarkan satu tunggangan kebesaran Raja Sura Liman Sakti atau beliaulah sendiri yaitu Pangeran Arya Adipati Ewangga yang menggunakan tunggangan kereta Paksi Naga Liman, itulah yang selama ini memang di Kuningan sendiri sudah agak pudar dan memang banyak menjauh ke wilayah-wilayah luar wilayah Kuningan, karena memang itu kebetulan tradisonal yang sangat besar sekali kalau kita merunut ke asal muasal ya itulah daripada jaman Pangeran Sura Liman Sakti atau Pangeran Arya Adipati Ewangga. Kemudian ada juga Genjring dan Reog dan inilah pada masa kesenian beliau atau Sri Baginda Maha Raja Purnawarman (Pangeran Arya Adipati Ewangga) dan Sri Baginda Maha Raja Candra Warman/Sang Pandawa Raja Kuningan (Pangeran Rama Jaksa Patikusuma) , tapi sampai saat ini yang memang masih sering dilaksanakan dalam upacara-upacara penyambutan Hari Jadi Kuningan khusunya di Winduherang yaitu untuk Golewang masih dilakoni walaupun memang jarang.

SYARIF JUANDA (ANGGOTA DPRD KABUPATEN KUNINGAN) :
“Sangat prihatin, memang dalam hal ini budaya dikembangkan atau dipelihara, tapi kenapa ini hanya dijadikan sebagai budaya to, Negara ini akan menjadi besar justru dari nama Besar dan  Jasa-Jasa Besar Beliau-Beliau para pendiri NUSANTARA.
  
 SRI CANDRA PATIKUSUMA (Penulis Sejarah Kuningan)
“ Makom-makom dan nama-nama Raja – Raja yang tertulis di dalam Panggung Sejarah Nasional dan sejarah Pewayangan ada di Winduherang Kuningan Jawa Barat.
“Prof. Dr. Nugroho Noto Susanto dalam buku sejarah nasional Indonesia tahun 1970 menyatakan” bahwa Panggung-panggung peristiwa sejarah nasional dan nusantara nama-nama keberadaannya ada di wilayah Jawa Barat bagian timur tepatnya KUNINGAN”. Dan ini bisa dijadikan keberatan atas pemindahan panggung peristiwa sejarah ke wilayah luar Kuningan”.
Sudah waktu niti mangsa Sejarah Kuningan ini terbuka, Insya Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar